
- Image via Wikipedia
Hadith No: 723
Dari Abu Hurairahرضي الله عنه bahwa Rasulullahصلی الله عليه وسلم bersabda: “Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga.”
Muttafaq Alaihi
Hadith No: 724
Dari ‘Aisyah رضي الله عنها bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad? Beliau menjawab: Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, iaitu haji dan umrah.”
Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan lafadz menurut riwayatnya. Sanadnya shahih dan asalnya dari shahih Bukhari-Muslim.
No: 725
Dari Jabir Ibnu Abdullah رضي الله عنه bahwa ada seorang Arab Badwi datang kepada Nabi صلی الله عليه وسلم lalu berkata: Wahai Rasulullah, beritahukanlah aku tentang umrah, apakah ia wajib? Beliau bersabda: “Tidak, namun jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu.”
Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Menurut pendapat yang kuat hadits ini mauquf. Ibnu Adiy mengeluarkan hadits dari jalan lain yang lemah, dari Jabir رضي الله عنه berupa hadits marfu’: Haji dan umrah adalah wajib.
No: 726
Anas رضي الله عنه berkata: Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu? Beliau bersabda: “Bekal dan kendaraan.”
Riwayat Daruquthni. Hadith sahih menurut Hakim. Hadith mursal menurut pendapat yang kuat.
No: 727
Hadith tersebut juga dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar. Dalam sanadnya ada kelemahan.
No: 728
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم pernah bertemu dengan suatu kafilah di Rauha’, lalu beliau bertanya: “Siapa rombongan ini?” Mereka berkata: Siapa engkau? Beliau menjawab: “Rasulullah.” Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya: Apakah yang ini boleh berhaji? Beliau bersabda: “Ya boleh, dan untukmu pahala.”
Riwayat Muslim.
No: 729
Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata: Adalah al-Fadl Ibnu Abbas رضي الله عنه duduk di belakang Rasulullah صلی الله عليه وسلم, lalu seorang perempuan dari Kats’am datang. Kemudian mereka saling pandang. Lalu Nabi صلی الله عليه وسلم memalingkan muka al-Fadl ini ke arah lain. Perempuan itu kemudian berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya haji yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya itu turun ketika ayahku sudah tua bangka, tidak mampu duduk di atas kenderaan. Bolehkah aku berhaji untuknya? Beliau menjawab: “Ya Boleh.” Ini terjadi pada waktu haji wada’.
Muttafaq Alaihi dan lafaznya menurut riwayat Bukhari.
No: 730
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه bahwa ada seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi صلی الله عليه وسلم, lalu berkata: Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji, dia belum berhaji lalu meninggal, apakah aku harus berhaji untuknya? Beliau bersabda: “Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu seandainya ibumu menanggung hutang, tidakkah engkau yang membayarnya? Bayarlah pada Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditepati.”
Riwayat Bukhari.
No: 731
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: “Setiap anak yang haji kemudian setelah baligh, dia wajib haji lagi; dan setiap hamba sahaya yang haji kemudian dia dimerdekakan, dia wajib haji lagi.”
Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Baihaqi. Para perawinya dapat dipercaya, namun kemarfu’an hadihs ini diperselisihkan. Menurut pendapat yang terjaga hadith ini mauquf.
No: 732
Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata: Aku mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم ketika khutbah bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyepi dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya, dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya.” Berdirilah seorang laki-laki dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteriku pergi haji sedang aku diwajibkan ikut perang ini dan itu. Maka beliau bersabda: “Berangkatlah dan berhajilah bersama isterimu.”
Muttafaq Alaihi dan lafaznya menurut Muslim.
No: 733
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه bahawa Nabi صلی الله عليه وسلم pernah mendengar seseorang berkata: Labbaik ‘an Syubrumah (artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu untuk Syubrumah.) Beliau bertanya: “Siapa Syubrumah itu?” Dia menjawab: Saudaraku atau kerabatku. Lalu beliau bersabda: “Apakah engkau telah berhaji untuk dirimu?” Dia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: “Berhajilah untuk dirimu kemudian berhajilah untuk Syubrumah.”
Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadith sahih menurut Ibnu Hibban. Pendapat yang kuat menurut Ahmad ia mauquf.







