SYAFREIN.COM

home and family guide

Kalau Berpacaran

Pertama

Saya tidak meminati lagu “Kalau Berpacaran” dendangan Suhaimi Mior Hassan feat. Ana Raffali walaupun saya meminati lagu-lagu Sohaimi terdahulu seperti “Epilog Cinta dari Bromley” yang pernah popular pada dekad 1980-an.

Lagu “Kalau Berpacaran” kini popular di kalangan ank-anak muda mungkin kerana faktor Ana Raffali yang sedang top sekarang. Suhaimi pula bijak menggunakan penyanyi muda ini untuk ‘bangkit’ semula.

Saya hanya tertarik dengan  perkara Kedua dan Ketiga di bawah ini.

Kedua

Perkataan “Berpacaran” biasanya digunakan di Indoesia dalam perbualan harian mereka. Di Malaysia orang biasa menggunakan istilah dating atau pakwe makwe dan lain-lain lagi. Tetapi penulis lirik, penceramah, sarikata TV sering menggunakannya. Mengapa? Alangkah cintanya orang Malaysia kepada istilah Indonesia :-)

Seperti saya tulis sebelum ini di Catatan Sekilas, penulis-penulis Malaysia sering menggunakan perkataan ‘bisa’. Mereka mungkin pernah dipatuk ular sehingga masih terasa bisa ular tersebut. ;-)

Pacar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai dua pengertian:

1pa·car n teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih;
ber·pa·car·an v bercintaan; berkasih-kasihan: kedua remaja itu sudah ~ sejak mereka duduk di kelas tiga sekolah menengah tingkat atas;
me·ma·cari v menjadikan sbg pacar; mengencani: sudah lama ia ~ gadis itu;
pa·car·an v cak berpacaran

2pa·car n 1 tumbuhan kecil yg daunnya biasa dipakai untuk pemerah kuku; batang inai; Lawsonia inermis; 2 daun inai

Ketiga

Sebutan ‘renggang’ biasa disebut dengan e pepet (seperti bunyi rebah, lebah) tetapi Suhaimi menyebutnya dengan e taling (seperti dalam perkataan reka, merdeka, pesta.)

Mengapa? Apakah dia sengaja atau tidak tahu?

Perkataan renggang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia juga mempunyai dua pengertian:

1reng·gang a 1 ada celahnya (antaranya, sela-selanya); tidak rapat: mereka disuruhnya berjajar agak — sedikit; 2 kurang erat (tt persahabatan dsb): perkara itu menyebabkan hubungan antara kedua negara itu semakin –;

2reng·gang Plb vme·reng·gang ga·wai v memerkosa perempuan

Wallaahu a’lam!

Copyright secured by Digiprove © 2011 Syafrein Effendi Usman

Ku Tak Bisa – Jaclyn Victor

Petang ini sambil menjemput anakku pulang dari sekolahnya, di radio berkumandang lagu “Ku Tak Bisa” nyanyian Jaclyn Victor.

Di sini aku tidak ingin mengulas pasal lagu tersebut (aku tak minat pun). Tapi aku tertarik dengan perkataan “bisa” yang dipilih oleh penulis liriknya.

Kenapalah penulis-penulis lirik lagu di Malaysia ini suka sangat gunakan perkataan yang umumnya digunakan di Indonesia? Dah banyak kali aku mendengar lirik lagu yang mengandungi perkataan ini. Dah naik muak!

Anehnya tak pernah pulak aku dengar orang Malaysia berbual-bual menggunakan perkataan “bisa”. Lain halnya di Indonesia, “bisa” memang digunakan sebagai bahasa harian mereka.

“Ia bisa membaca, tetapi tidak bisa menulis.”

“Kita pasti bisa, Pak”

“Indonesia Bisa”

Itulah beberapa contoh penggunaan “bisa” di Indonesia. Tapi di Malaysia kita tak gunakan “Malaysia Bisa”, nanti orang ketawakan kita. Silap hari bulan orang tanya kita pulak: “Kapan datang dari Indonesia, Pak?”

Di Malaysia tentu saja kita sebut “Malaysia Boleh!”

“Bisa” — yang bermakna boleh, dapat, kuasa, mampu — berasal dari bahasa daerah. Sedangkan “bisa” dalam bahasa Melayu bermakna “zat racun yang dapat menyebabkan luka, busuk, atau mati bagi sesuatu yang hidup (biasanya terdapat pada binatang).

Kalau penulis lirik lagu dan penulis-penulis yang lain di Malaysia masih suka menggunakan bahasa Indonseia yang tidak berakar dalam masyarakatnya sendiri, kita khuatir jati diri mereka akan hilang.

Gunakanlah kreativiti anda untuk mencungkil khazanah bahasa kita. Keindahan dalam sebuah lirik itu bukan kerana kita pandai mencedok bahasa asing, tetapi terletak dari kreativiti diri sendiri.

Kalau kita nak “tiru” juga, tirulah penulis-penulis lirik lagu Indonesia yang bahasanya sederhana, mudah difahami oleh orang ramai. Ada di antara mereka menggunakan bahasa “harian” tapi ada nilai-nilai estetikanya, menghunjam ke lubuk hati dan minda kita. Bahasanya membumi!

Copyright secured by Digiprove © 2010 Syafrein Effendi Usman

Bad Behavior has blocked 104 access attempts in the last 7 days.

Switch to our mobile site